Senin, 25 Maret 2013

KESEHATAN MENTAL : Tulisan 1


 I.                   Konsep Sehat
      Pertama kali yang akan kita bahas yaitu apa itu sehat? Sehat adalah suatu keadaan baik dalam jiwa dan tubuh kita sebagai makhluk hidup. Sehat ada dua arti, sehat fisik dan sehat mental. Dalam pembahasan kali ini kita akan membahas mengenai sehat mental yang memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :
1.      Terhindar dari gejala – gejala gangguan jiwa dan penyakit jiwa
2.      Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan
3.      Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
4.      Tercapai kebahagiaan pribadi dan orang lain.
Adapun 8 kriteria mental yang sehat menurut Dadang Hawari (PR, 19-1-1995), yaitu :
1.        Mampu belajar dari pengalaman
2.        Mudah beradaptasi
3.        Lebih senang memberi daripada menerima
4.        Lebih senang menolong daripada ditolong
5.        Mempunyai rasa kasih sayang
6.        Memperoleh kesenangan dari hasil usahanya
7.        Menerima kekecewaan untuk digunakan sebagai pengalaman
8.        Berpikir positif.
       Sedangkan menurut Sikun Pribadi (1981), ciri atau manifestasi jiwa yang sehat adalah sebagai berikut :
1.        Perasaan aman, bebas dari rasa cemas
2.       Rasa harga diri yang mantap
3.       Spontanitas dan kehidupan emosi yang hangat dan terbuka
4.       Berkeinginan yang sifatnya duniawi, jasmani yang wajar
5.       Mengalah dan merendahkan diri sederajat dengan orang lain
6.       Tahu diri, mampu menilai kekurangan dan kelebihan dirinya secara objektif
7.       Mampu melihat realitas
8.       Toleransi terhadap ketegangan atau stress
9.       Intergrasi dan mantap dalam kepribadian
10.  Bertujuan hiduo yang positif
11.  Mampu belajar dari pengalaman
12.  Mampu menyesuaikan diri sesuai norma – norma yang berlaku
13.  Mampu untuk tidak terikat oleh kelompok.

Sumber : Yusuf, Syamsu DR LN, M.Pd,(2004) Mental Hygiene Pengembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan AgamaBandung: Pustaka Bani Quraisy

II.           Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
          A.    Era Pra Ilmiah
1.      Kepercayaan Animisme
Sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animisme, yaitu suatu kepercayaan bahwa dunia ini diawasi oleh roh – roh atau dewa – dewa.
Orang primitif percaya bahwa angin bertiup, ombak mengalun, batu berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal di dalam benda tersebut. Menurut orang Yunani kuno, orang – orang yang meyakini hal tersebut mengalami gangguan mental.
2.      Kemunculan Naturalisme
Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-367). Dia dan pengikutnya mengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan “Naturalisme”, suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik itu merupakan akibat dari alam.
Ide naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh seorang tabib bernama Galen. Selanjutnya pendekatan ini tidak dipergunakan lagi di kalangan orang kristen. Namun kemudian ada seorang dokter Perancis, yaitu Philipe Pinel (1745-1826) yang menggunakan filsafat politik dan sosial untuk memecahkan masalah penyakitm mental.
       B.     Era Ilmiah
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme ( irrasional) dan tradisional ke sikap dengan cara yang ilmiah ( rasional ), terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika tahun 1783. Di rumah sakit Penisylvania ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics ( orang-orang gila atau sakit ingatan ).
Pada saat itu belum ditemukan pngetahuan tentang cara – cara menyembuhkan pasien – pasien yang mengalami kegilaan secara benar. Maka yang dilakukan oleh para dokter hanya dengan mengurung pasien dalam sel yang kurang ventilasi dan mereka sekali – kali diguyur dengan air.
Kemudian Rush melakukan usaha dalam memahami orang – orang yang mengalami gangguan jiwa tersebut, yaitu dengan menulis artikel – artikel di media massa. Setelah 13 tahun, yaitu tahun 1796, dibangunlah ruangan khusus bagi para pasien. Secara berkesinambungan, Rush mengadakan pengobatan kepada para pasien dengan memberikan dorongan moril atau motivasi untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.
Perkembangan psikologi abnormal dan psikiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya Mental Hygiene berkembang menjadi suatu “body of knowledge” berikut gerakan – gerakannya yang terorganisir.
Pada tahun 1909, gerakan mental hygiene secara formal mulai muncul dan didirikanlah beberapa organisasi seperti : America Social Hygiene Association (ASHA), dan American Federation for Sex Hygiene. Organisasinya pun terus bertambah seiring bertambahnya waktu. Gerakannya pun terus berkembang, sehingga pada tahun 1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui “The World Federation for Mental Health” dan “The World Health Organizatin”.

Sumber : Yusuf, Syamsu DR LN, M.Pd,(2004) Mental Hygiene Pengembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama, Bandung: Pustaka Bani Quraisy


III.            Pendekatan Kesehatan Mental
1.        Orientasi Klasik

Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.
2.        Orientasi Penyesuaian Diri
       Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sakit mental bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang yang menampilkan perilaku yang diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain. Misalnya ia melakukan agresi yang berakibat kerugian fisik pada orang lain pada saat suasana hatinya tidak enak tetapi sangat dermawan pada saat suasana hatinya sedang enak. Dapat dikatakan bahwa orang itu sehat mental pada waktu tertentu dan tidak sehat mental pada waktu lain. Lalu secara keseluruhan bagaimana kita menilainya? Sehatkah mentalnya? Atau sakit? Orang itu tidak dapat dinilai sebagai sehat mental dan tidak sehat mental sekaligus.
Dengan contoh di atas dapat kita pahami bahwa tidak ada garis yang tegas dan universal yang membedakan orang sehat mental dari orang sakit mental. Oleh karenanya kita tidak dapat begitu saja memberikan cap ‘sehat mental’ atau ‘tidak sehat mental’ pada seseorang. Sehat atau sakit mental bukan dua hal yang secara tegas terpisah. Sehat atau tidak sehat mental berada dalam satu garis dengan derajat yang berbeda. Artinya kita hanya dapat menentukan derajat sehat atau tidaknya seseorang. Dengan kata lain kita hanya bicara soal ‘kesehatan mental’ jika kita berangkat dari pandangan bahwa pada umumnya manusia adalah makhluk sehat mental, atau ‘ketidak-sehatan mental’ jika kita memandang pada umumnya manusia adalah makhluk tidak sehat mental. Berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian seseorang secara keseluruhan. Penentuan derajat kesehatan mental seseorang bukan hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan seseorang dalam lingkungannya.
3.        Orientasi Pengembangan Potensi
Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat  kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan. Telah terbukti bahwa tidak selamanya perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering terjadi sebaliknya, pikiran tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang dan wajar.
Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental atau kesehatan mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan emosi, mengurangi atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukan jiwa. Menjaga hubungan sosial akan dapat mewujudkan tercapainya tujuan masyarakat membawa kepada tercapainya tujuan-tujuan perseorangan sekaligus. Kita tidak dapat menganggap bahwa kesehatan mental hanya sekedar usaha untuk mencapai kebahagiaan masyarakat, karena kebahagiaan masyarakat itu tidak akan menimbulkan kebahagiaan dan kemampuan individu secara otomatis, kecuali jika kita masukkan dalam pertimbangan kita, kurang bahagia dan kurang menyentuh aspek individu, dengan sendirinya akan mengurangi kebahagiaan dan kemampuan sosial.
www.gunadarma.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar