Rabu, 24 April 2013

TULISAN 1


TEORI KEPRIBADIAN SEHAT

I.                   ALLPORT
Pandangan Allport mengenai kemanusiaan cenderung lebih teologi daripada masa kausalitas, kepribadian, sampai pada taraf tertentu, dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, tetapi perilaku yang membuat kita “manusia” adalah yang dimotivasi oleh ekspetasi kita mengenai masa depan. Dengan kata lain, kita adalah pribadi yang sehat sampai pada taraf ketika kita membuat dan mencari tujuan serta aspirasi untuk masa depan.
Pertumbuhan kepribadian selalu terjadi di dalam suatu lingkungan sosial, tetapi Allport hanya menempatkan yang tidak terlalu besar pada faktor sosial. Ia menyadari pentingnya pengaruh lingkungan dalam membantu pembentukan kepribadian, tetapi ia menekankan bahwa kepribadian mempunyai kehidupan sendiri.
Jadi, kesimpulannya Allport memiliki pandangan yang optimistik mengenai kemanusiaan dengan mempertahankan pendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan yang terbatas.

Sumber :
Hall,S.C.Lindzey.G, 1993, Psikologi Kepribadian 2. Yogyakarta : Kanisius

II.                CARL ROGERS
Secara umum, sehat menurut Rogers meliputi :
1.      Perkembangan kepribadian ”self”
2.      Peranan positive regards dalam pembentukan kepribadian individu
3.      Ciri – ciri orang yang berfungsi sepenuhnya
Namun yang akan saya jelaskan disini adalah poin yang pertama yaitu perkembangan kepribadian “self”.
Rogers bekerja dengan individu – individu yang terganggu yang mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Untuk merawat pasien – pasien ini, Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian pada klien, bukan pada ahli terapi.
Menurut Rogers, manusia yang sadar dan rasional, tidak dikontrol oleh peristiwa – peristiwa masa kanak – kanak. Hal ini tidak menghukum atau mengutuk kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak dapat kita kontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting daripada masa lampau.
Rogers mempunyai konsepsi – konsepsi pokok di dalam teorinya, yaitu :
·      Organism ( keseluruhan individu )
·      Medan phenomenal ( keseluruhan pengalaman )
·      Self ( bagian medan phenomenal yang terdeferensiasikan dan terdiri dari pola – pola pengamatan dan penilaian sadar daripada “I” atau “me”
Self mempunyai bermacam – macam sifat, yaitu :
·      Berkembang dari interaksi organisme dengan lingkungannya.
·      Menginteraksikan nilai – nilai orang lain dan mengamatinya dalam cara yang tidak wajar.
·      Mengejar keutuhan / kesatuan.
·      Organisme bertingkah laku dalam cara yang selaras dengan self.
·      Pengalaman – pengalaman yang tak selaras dengan struktur self diamati sebagai ancaman.
·      Berubah sebagi hasil dari pematangan dan belajar.
Sebagai contoh misalnya saat kecil, anak – anak mulai membedakan salah satu segi pengalamannya dari semua yang lain – lainnya. Anak – anak mulai menambahkan kata “aku” dan “kepunyaanku”. Anak itu mengembangkan kemampuannya untuk membedakan antara apa yang menjadi milik dan benda yang dilihat, diraba, didengar dan dicium ketika dia mulai membentuk suatu gambaran tentang siapa dirinya. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan suatu “pengertian diri” ( self concept ).
Sebagian dari self concept, anak juga menggambarkan dia akan menjadi apa dan siapa. Gambaran itu terbentuk sebagai suatu akibat dari bertambah kompleksnya interaksi – interaksi dengan orang lain. Dengan mengamati orang lain terhadap tingkah lakunya sendiri, anak itu secara ideal mengembangkan suatu pola gambaran diri yang konsisten.

Sumber :
Psikologi Pertumbuhan : Schultz, Duane model-model kepribadian sehat,1991.
Psikologi Kepribadian : Drs, Sumadi Suryabrata,B.A.,M.A.,Ed.S.,Ph.D, 2008.

III.       ABRAHAM MASLOW
Dalam teori kepribadian sehat menurut Maslow, ada beberapa point yang dijabarkan tentang pendekatan Maslow terhadap kepribadian. Dia percaya bahwa menyelidiki kesehatan psikologis, satu-satunya tipe orang yang dipelajari ialah orang yang sangat sehat. Salah satu konsep yang dijelaskan oleh Abraham Maslow yaitu hierarki kebutuhan manusia.
Kita didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal yang dibawa sejak lahir yang tersusun dalam suatu tingkat dari yang paling kuat sampai yang paling lemah. Ibarat suatu tangga, kita harus meletakkan kaki pada anak tangga pertama sebelum berusaha mencapai anak tangga kedua, dan seterusnya, sampai kita mampu naik pada tingkat yang paling tinggi. Kebutuhan - kebutuhan tersebut adalah :
1.                 Kebutuhan Fisiologis. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan-kebutuhan yang jelas terhadap makanan, air, udara, tidur, seks dan pemuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan itu sangat penting untuk kelangsungan hidup. Dan juga kebutuhan ini merupakan yang terkuat dan sifatnya amat penting dari semua kebutuhan.
2.                 Kebutuhan Akan Rasa Aman. Kebutuhan-kebutuhan ini meliputi kebutuhan-kebutuhan akan jaminan, stabilitas, ketertiban, bebas dari ketakutan dan kecemasan. Kebutuhan akan rasa aman juga merupakan kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan agar dapat melangsungkan hidup dengan baik.
3.                 Kebutuhan Akan Memiliki Cinta dan Kasih. Kebutuhan ini semacam layak untuk mendapatkan rasa cinta dan kasih sayang terhadap orang lain, baik seperti orang tua, kakak, adik, sahabat, ataupun saudara dengan tujuan agar merasakan perasaan memiliki. Kita memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita akan cinta dengan membangun suatu hubungan akrab dan penuh perhatian, dan dalam hubungan ini memberi dan menerima cinta adalah sama pentingnya.
4.                 Kebutuhan Akan Penghargaan. Yaitu penghargaan yang berasal dari orang lain dan juga terhadap diri sendiri. Penghargaan yang berasal dari orang lain (dari luar) misalnya popularitas ataupun keberhhasilan dalam masyarakat. Ada banyak cara juga supaya orang lain bisa menghargai kita, menurut saya apabila dengan cara yang negatif, kita bisa saja memamerkan serta gengsi kita dengan apa yang kita miliki, seperti mengendarai mobil mewah yang kita miliki, membeli rumah besar, dsb. Kita tidak dapat menghargai diri kita jika kita tidak mengetahui kita apa dan siapa.
5.                 Aktualisasi diri. Apabila kita telah memuaskan semua kebutuhan diatas, maka kita didorong oleh kebutuhan yang paling tinggi, yaitu aktualisasi diri. Aktualisasi diri dapat didefinisikan sebagai perkembangan yang paling tinggi dan penggunaan semua bakat kita, pemenuhan semua kualitas dan kapasitas kita. Kita harus bisa menjadi menurut potensi yang kita miliki. Maslow menyebutkan apabila kita dapat memuaskan kebutuhan kita dari tingkat yang rendah, kita masih merasa aman secara fisik maupun emosional, mempunyai rasa memiliki dan juga merasa bahwa kita adalah diri yang berharga. Namun apabila kita gagal dalam tahap aktualisasi diri ini, maka kita akan merasa kecewa, tidak tenang dan tidak puas. Dengan begitu, kita tidak akan berada dalam damai pada diri kita sendiri dan tidak bisa dikatakan bahwa kita sehat secara psikologis.
Seperti yang disebutkan diatas, menurut Maslow jika tingkat kebutuhan aktualisasi diri tidak dapat terpenuhi, maka kita tidak bisa disebut sebagai manusia yang sehat secara psikologis. Maslow juga menyebutkan bahwa orang yang sehat adalah orang mampu mengaktualisasikan diri mereka dengan baik dan imbang, mereka juga dapat memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi yaitu memenuhi potensi-potensi yang mereka miliki serta mengetahui dan memahami dunia sekitar mereka. Orang-orang yang mengaktualisasikan diri itu tidak berjuang, tetapi mereka berusaha, Maslow menyebut teori ini dalam “metamotivation”. Ia juga menulis “Motif yang paling tinggi ialah tidak didorong dan tidak berjuang”, itu berarti memang orang yang mampu mengaktualisasikan diri tidak berjuang melainkan berusaha.
Menurut Maslow, syarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tadi tela disebutkan, yaitu memuaskan hierarki empat kebutuhan yang ada, diantaranya yang pertama adalah kebutuhan akan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, cinta kasih, serta penghargaan diri. Dan kebutuhan ini harus terpenuhi sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri.
Kita juga tidak membutuhkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam waktu yang sama, akan tetapi dapat membutuhkannya dalam waktu yang berbeda. Hanya kebutuhan yang sangat penting yang akan dirasakan pada saat bersamaan dan dalam setiap momen tertentu.

Sumber :
Psikologi Pertumbuhan : Schultz, Duane model-model kepribadian sehat,1991.

IV.             ERICH FROMM
Salah satu ciri pribadi yang sehat menurut Fromm, yaitu adanya kemampuan untuk hidup dalam masyarakat sosial. Masyarakat sangat berperan penting dalam pembentukan kepribadian. Masyarakat yang menjadikan seseorang berkepribadian sehat adalah masyarakat yang hubungan sosialnya sangat manusiawi.
Ada lima watak sosial dalam masyarakat, yaitu :
  1.       Penerimaan ( receptive )
  2.      Penimbunan ( hoarding )
  3.       Penjualan/pemasaran ( marketing )
  4.        Penghisapan/pemerasan ( exploitative )
  5.       Produktif ( productive )

Dari kelima watak sosial ini yang benar – benar tepat dan sehat hanyalah watak produktif karena watak produktif didorong oleh cinta dan akal budi dan dapat membantu perkembangan dan pertumbuhan pribadi dan masyarakat.
Masyarakat yang baik itu perlu ditopang dengan cinta. Oleh karena itu, Fromm menyebutkan 5 tipe yang berbeda tentang cinta, yaitu :

  1.      Cinta persaudaraan
  2.      Cinta keibuan
  3.      Cinta erotik
  4.      Cinta diri
  5.      Cinta illahi

Menurut Fromm, pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu hidup hidup di masyarakat sosial yang ditandai dengan hubungan – hubungan yang manusiawi, diwarnai oleh solidaritas penuh cinta dan saling tidak merusak atau menyingkirkan. Dengan demikian, menurut Fromm, orang yang berkepribadian sehat memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
1.      Mampu mengembangkan hidupnya sebagai makhluk sosial di dalam masyarakat
2.      Mampu mencintai dan dicintai
3.      Mampu mempercayai dan dipercayai tanpa memanipulasi kepercayaan tsb
4.      Mampu hidup bersolidaritas dengan orang lain tanpa syarat
5.      Mampu menjaga jarak antar dirinya dengan masyarakat tanpa merusaknya
6.      Memiliki watak sosial yang produktif

Sumber :
Semiun, Yustinus, 2006. Kesehatan Mental 1, Yogyakarta : Kanisius
Riyanto, Theo, 2006. Jadikan Dirimu Bahagia, Yogyakarta : Kanisius

Tidak ada komentar:

Posting Komentar