Kamis, 27 Juni 2013

Rangkuman Kesehatan Mental Semester IV



KESEHATAN MENTAL

I.   Konsep Sehat
Beberapa karakteristik sehat, yaitu sebagai berikut :
1.            Terhindar dari gejala – gejala gangguan jiwa dan penyakit jiwa
2.            Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan
3.            Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
4.            Tercapai kebahagiaan pribadi dan orang lain.
                                                                       
Sumber : Yusuf, Syamsu DR LN, M.Pd,(2004) Mental Hygiene Pengembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan AgamaBandung: Pustaka Bani Quraisy

II.           Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
A.    Era Pra Ilmiah
1.        Kepercayaan Animisme
2.        Kemunculan Naturalisme
B.     Era Ilmiah
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme ( irrasional) dan tradisional ke sikap dengan cara yang ilmiah ( rasional )

Sumber : Yusuf, Syamsu DR LN, M.Pd,(2004) Mental Hygiene Pengembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama, Bandung: Pustaka Bani Quraisy

III.            Pendekatan Kesehatan Mental
1.                Orientasi Klasik
2.                Orientasi Penyesuaian Diri
3.                Orientasi Pengembangan Potensi


Teori Kepribadian Sehat Menurut 3 Mazhab Psikologi

1.      ALIRAN PSIKOANALISA
2.      ALIRAN BEHAVIORISME
3.      ALIRAN HUMANISTIK

Lindsay,Gardner. Editor: Sugiyono. 1993. Psikologi Kepribadian 3 Teori-Teori Kepribadian dan Behavioristik. Kanisius : Yogyakarta
Sarwono,S.W.(2002).Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-Tokoh Psikologi.Jakarta : Bulan Bintang
Baihaqi,MIF.(2008). Psikologi Pertumbuhan, Kepribadian Sehat Untuk Mengembangkan Optimisme. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Hlm. 4-6.

Coping Stres
A.        Pengertian dan Jenis Coping
Lazarus mendefinisikan coping sebagai suatu cara individu untuk mengatasi situasi atau masalah yang dialami baik sebagai ancaman atau suatu tantangan yang menyakitkan.
Jenis-jenis Coping
Menurut Lazarus dan Folkman,  ada 2 jenis strategi coping, yaitu:
a.                     Problem-Solving Focused Coping.
b.                    Emotion-Focused Coping.

B.        Jenis Coping yang Positif (Konstruktif) dan Negatif (Destruktif)
1.         Gaya Koping Positif (Konstruktif)
Merupakan gaya koping yang  mampu mendukung integritas ego.
2.        Gaya Koping Negatif (Destruktif)
Merupakan gaya koping yang akan menurunkan integritas ego, dalam penentuan gaya koping akan merusak dan merugikan dirinya sendiri.

Lazarus, R, S. & Folkman, S. 1984. Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer.
http://zy-ceritaku.blogspot.com/2013/01/mekanisme-koping.html


A.  Konsep Penyesuaian Diri
Menurut Fromm adaptasi dapat dibedakan menjadi dua yakni adaptasi statis dan adaptasi dinamik.
Faktor - faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu, yaitu:
1.                  Faktor Biologis
2.                  Faktor Geografis
3.                  Faktor Kebudayaan Khusus
B.    Pertumbuhan Personal
Konsep pertumbuhan personal meliputi :
a.                   Penekanan dan Pertumbuhan Diri
b.                  Variasi dalam Pertumbuhan
c.                   Kondisi – Kondisi untuk Bertumbuh

Yustinus Semiun.2001.Kesehatan Mental 1.Yogyakarta:Penerbit Kanisius

.     Pengertian
Menurut Pearson (1983) manusia adalah makhluk sosial, artinya sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat menjalin hubungan sendiri, kita selalu menjalin hubungan dengan orang lain, mencoba untuk mengenali dan memahami kebutuhan satu sama lain, membentuk interaksi serta berusaha mempertahankan interaksi tersebut. Kita melakukan hubungan interpersonal ketika mencoba untuk berinteraksi dengan orang lain. Hubungan interpersonal adalah hubungan yang terdiri atas dua orang atau lebih yang memiliki ketergantungan satu sama lain dan menggunakan pola interaksi yang konsisten. Ketika akan menjalin hubungan interpersonal, akan terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan interpersonal attraction.

B.      Jenis – Jenis Hubungan Interpersonal
1.                  Hubungan Interpersonal berdasarkan Jumlah Individu yang Terlibat
2.                  Hubungan Interpersonal berdasarkan Tujuan yang Ingin Dicapai 
3.                  Hubungan Interpersonal berdasarkan Jangka Waktu
4.                  Hubungan Interpersonal yang Didasarkan atas Tingkat Kedalaman atau Keintiman

C.   Cara Memulai Hubungan

Beberapa faktor yang mempengaruhi rasa ingin memulai hubungan interpersonal, di antaranya yaitu :
a.            Keakraban Jarak Jauh ( melalui media elektronik atau jejaring sosial )
b.        Kesamaan
c.        Kesamaan Opini dan kepribadian
d.       Kesamaan Gaya Interpersonal
e.        Kesamaan Minat dan Pengalaman
f.         Kesukaan Timbal Balik
g.        Standar Budaya
h.        Familiaritas
i.          Asumsi mengenai Orang yang Menarik.
D.   Intimasi dan Hubungan Pribadi
  •  Intimasi ( kelekatan atau keakraban ) atau sering disebut juga sebagai   proximity, propinquity
  •  Hubungan Pribadi. Ada dua hal yang mengawali suatu hubungan pribadi, yaitu kondisi suka dan cinta.
E.    Intimasi dan Pertumbuhan
Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita.

Sujanto, Agus.1991. Psikologi Umum. Jakarta : Bumi Aksara.

Handout Psikologi Sosial II : Ketertarikan Interpersonal/MM. Nilam Widyarini

.    Deskripsi Cinta dan Perkawinan
Menurut saya pribadi, cinta itu rasa mengasihi, rasa nyaman dan ingin selalu dekat. Sangat sulit dijelaskan karena hanya bisa dirasakan. Sedangkan perkawinan adalah kebersamaan hidup pasangan di dalam satu atap dan satu tujuan untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Perkawinan sebaiknya harus didasari oleh cinta. Karena cinta dapat menjadi pondasi yang kuat bagi sebuah perkawinan. Di dalam perkawinan selalu ada berbagai cobaan serta masalah – masalah yang terkadang dipikir sulit untuk diselesaikan. Namun dengan adanya cinta, semua akan selalu kembali dengan baik. Emosi pun akan teredam jika cinta sudah mengingatkannya akan sebuah perkawinan yang baik menurut masing – masing orang dan menurut Allah SWT.

      B.     Cara Memilih Pasangan
Kebebasan itu memang omong kosong. Tak ada kebebasan untuk memilih, termasuk memilih pasangan hidup. Seringkali orangtua kita sibuk untuk memilihkan pasangan yang terbaik. Namun terbaik untuk mereka belum tentu terbaik untuk anaknya. Yang terpenting adalah kita harus memiliki kecocokan dengan orang tersebut. Akan lebih nyaman lagi jika kita memiliki kesamaan opini, kepribadian, hobi atau yang lainnya. Meskipun kesamaan itu sulit untuk didapatkan, namun kita tidak boleh terhenti hanya karena perbedaan. Jadikanlah perbedaan itu sebagai variasi dalam suatu hubungan.
C.    Seluk Beluk dalam Hubungan Perkawinan
Banyak sekali hal yang terjadi dalam hubungan perkawinan. Karena menyatukan dua individu yang berbeda itu sangat sulit dan selalu menimbulkan perbedaan pendapat dan ketidaksetujuan akan sesuatu. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya. Kita tidak bisa selalu menuntut kesempurnaan. Maka yang bisa kita lakukan adalah menjadikan kekurangan pasangan itu sebagai bagian dari kehidupan kita dan menerimanya dengan ikhlas serta selalu berusaha untuk tidak menjadikan semua itu sebagai masalah.

D.   Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.

E.  Perceraian dan Pernikahan Kembali
Menikah kembali setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil.
Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama.
Menikah Kembali setelah perceraian bisa menjadi pengalaman menarik. tinggalkan masa lalu dan berharap untuk masa depan yang lebih baik.

E.     Single Life
seseorang yang menjalani single life pasti mengalami loneliness atau rasa kesepian. Terlebih ketika ia sudah lanjut usia dan anak – anaknya sudah berkeluarga.

( Adhim, Mohammad Fauzil (2002) Indahnya Perkawinan Dini Jakarta: Gema Insani Press (GIP))



                             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar